Saat ini saya sedang merasa sedikit kecewa..
Hmmm ya, lagi lagi ada harapan saya yang belum dapat terlaksana. Sepertinya saya memang harus menunda S2 (semoga hanya menunda, berharap kelak terlaksana). Padahal saya sudah dapat 3x panggilan utk tes TPA dan interview sbg syarat masuk S2, tapi selalu saya cancel. Kondisi keluarga, finansial, lingkungan belum mendukung harapan saya ini. Mungkin saya harus lebih banyak belajar lagi bersabar dan berbesar hati. Saya ingat kata kepala sekolah saya waktu SMA di pengajian ahad dulu, ketika itu ada seorang bapak2 yang bertanya kepada kepala sekolah saya: Pak Ustad, anak saya ingin sekali masuk ke sekolah ***** tapi saya tidak punya uang untuk membiayai utk masuk ke sekolah tersebut (memang biayanya cukup mahal menurut saya). Kemudian kepala sekolah saya menjawab yang intinya seperti ini: kalau begitu tidak usah masuk sekolah itu, ajarkanlah anak Bapak bersabar..
Kata-kata itu masih terus saya ingat, saya mengartikan bahwa tidak harus semua keinginan harus terlaksana. Jika memang kita belum bisa meraih apa yang kita inginkan padahal sudah berusaha, artinya kita harus lebih belajar bersabar. Sehingga akan selalu ada nilai positif yang dapat kita ambil.
Setiap orang dilahirkan dengan kondisi berbeda, ada yang dari keluarga kaya, cukup dan kurang mampu. Mereka yang berada di kondisi keluarga kaya dan cukup beryukurlah.. yang berada di kondisi kurang mampu pun harus berusaha beryukur, karena dengan kondisi yang serba terbatas justru kita banyak belajar untuk berjuang meraih sesuatu, sehingga (insyaallah) kita mempunyai pribadi yang lebih kuat. aamiin
Tapi saya sangat percaya akan itu, air mata atau keringat yang telah keluar demi berjuang meraih apa yang kita inginkan menjadikan kita lebih tahan terhadap tempaan yang akan datang. Menjadikan karakter kita berbeda. Dengan ini sebenarnya kita belajar apa itu survival. Survival bukan hanya selalu tentang cara bertahan hidup di dalam hutan dengan fasilitas terbatas, tetapi juga cara bertahan hidup di kehidupan sehari-hari dengan keadaan yang terbatas. Dapat melalui semua tantangan dengan lebih bijaksana dan sabar agar dapat menikmati hidup.
Saat ini, saya bukanlah orang hebat, saya bukan orang yang nilai akademis tinggi atau pandai berkata2 seperti Mario Teguh atau motivator lainnya. Tapi di benak saya selalu ada keinginan menjadi lebih baik, even it's only 0,01 of progress. Saya bukan planner yang baik, saya bukan orang yang semua rencana hidupnya tertata dengan baik. Tapi saya selalu ingin menjadi lebih pintar dari sebelumnya. Kenapa kalimat di paragraf ini saya awali dengan kata "saat ini"? karena saya berharap suatu kata "bukanlah" akan berganti menjadi kata "adalah". :p aamiin
Haah.. lagi lagi saya ingin menghela nafas dalam2, tapi baiklah.. back to the point : Belajar Sabar...😊😊😊
Selasa, 31 Januari 2017
Kamis, 19 Januari 2017
S2 dulu? atau nikah dulu?
Siapa yang tak ingin sekolah tinggi? siapa yang tak ingin lebih pintar dan bertambah ilmunya? Tapi tidak semua orang bisa seperti itu. Termasuk saya, butuh perjuangan yang ekstra untuk dapat kuliah, apalagi untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu S2. Saat ini saya sudah mendaftar di salah satu Universitas di Jakarta. Verifikasi berkas sudah dilewati, jadwal tes wawancara sudah ditentukan, namun saya belum juga dapat izin dari orang yang saya panggil Eyang untuk dapat kuliah lagi. Saya bertanya-bertanya, kenapa niat baik itu tidak selalu mudah untuk dijalani, saya merasa ini adalah sesuatu yang positif, juga mendapat pahala karena niat mencari ilmu. Tapi mindset yang berbeda membuat saya harus stuck di sini. Saya bingung, karena semua argumen saya dibantah oleh banyak alasan yang garis besarnya adalah tentang pernikahan.
Orang tua saya, memiliki background pendidikan yang rendah. Saya ingin kuliah lagi untuk memperbaiki diri dan membanggakan keluarga. Saya percaya bahwa ini adalah sesuatu yang baik, sedikitnya akan membuka wawasan saya jauh lebih luas dan memperbaiki pola pikir saya sehingga saya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Walaupun nanti saya akan sangat berusaha untuk membayar semua biaya sendiri karena kondisi ekonomi keluarga, tapi saya siap untuk itu karena saya yakin manfaat yang akan saya dapat jauh lebih besar dan akan mempengaruhi kehidupan saya selanjutnya.
Beruntunglah orang-orang yang lahir di keluarga yang serba berkecukupan dan tidak perlu susah payah untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi. Tapi saya tidak akan menyalahkan kondisi keluarga saya, saya selalu berusaha bersyukur karena saya yakin dengan perjuangan yang berbeda, saya menjadi pribadi yang juga berbeda. Lebih kuat, lebih tanggung, lebih dapat bertahan, menjadi pribadi yang lebih mandiri :D Amin
Dalam mengambil suatu keputusan, terdapat pro dan kontra. Jika banyak kontra yang menghampiri, saya merasa sangat sedih. Kehidupan saya tidaklah semulus daun talas atau selembut jelly. Sering saya harus menghela nafas dan menitikan air mata. Saya sering harus membuat keputusan sendiri, karena pola pikir kedua orang tua saya yang berbeda sehingga mereka tidak memberi arahan yang cukup jelas untuk saya.
Saya tidak ingin direndahkan karena saya bodoh, saya ingin dihargai oleh orang lain karena saya pintar, apakah itu sesuatu yang salah? Saya tidak tahu seberapa tinggi iq saya, mungkin saja hanya rata-rata atau dibawah rata-rata. Tapi saya punya keinginan untuk menjadi lebih baik.
Namun yang saya tahu iq bukanlah segalanya, jika tidak ada semangat untuk memperbaiki diri atau belajar, nilai iq yang tinggi menjadi tidak berarti. Bukankah iq harus diimbangi dengan eq?
Ya Allah,, semoga Engkau memberi jalan untukku, mudahkanlah... Aamiin.
Orang tua saya, memiliki background pendidikan yang rendah. Saya ingin kuliah lagi untuk memperbaiki diri dan membanggakan keluarga. Saya percaya bahwa ini adalah sesuatu yang baik, sedikitnya akan membuka wawasan saya jauh lebih luas dan memperbaiki pola pikir saya sehingga saya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Walaupun nanti saya akan sangat berusaha untuk membayar semua biaya sendiri karena kondisi ekonomi keluarga, tapi saya siap untuk itu karena saya yakin manfaat yang akan saya dapat jauh lebih besar dan akan mempengaruhi kehidupan saya selanjutnya.
Beruntunglah orang-orang yang lahir di keluarga yang serba berkecukupan dan tidak perlu susah payah untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi. Tapi saya tidak akan menyalahkan kondisi keluarga saya, saya selalu berusaha bersyukur karena saya yakin dengan perjuangan yang berbeda, saya menjadi pribadi yang juga berbeda. Lebih kuat, lebih tanggung, lebih dapat bertahan, menjadi pribadi yang lebih mandiri :D Amin
Dalam mengambil suatu keputusan, terdapat pro dan kontra. Jika banyak kontra yang menghampiri, saya merasa sangat sedih. Kehidupan saya tidaklah semulus daun talas atau selembut jelly. Sering saya harus menghela nafas dan menitikan air mata. Saya sering harus membuat keputusan sendiri, karena pola pikir kedua orang tua saya yang berbeda sehingga mereka tidak memberi arahan yang cukup jelas untuk saya.
Saya tidak ingin direndahkan karena saya bodoh, saya ingin dihargai oleh orang lain karena saya pintar, apakah itu sesuatu yang salah? Saya tidak tahu seberapa tinggi iq saya, mungkin saja hanya rata-rata atau dibawah rata-rata. Tapi saya punya keinginan untuk menjadi lebih baik.
Namun yang saya tahu iq bukanlah segalanya, jika tidak ada semangat untuk memperbaiki diri atau belajar, nilai iq yang tinggi menjadi tidak berarti. Bukankah iq harus diimbangi dengan eq?
Ya Allah,, semoga Engkau memberi jalan untukku, mudahkanlah... Aamiin.
Langganan:
Postingan (Atom)