Kamis, 19 Januari 2017

S2 dulu? atau nikah dulu?

Siapa yang tak ingin sekolah tinggi? siapa yang tak ingin lebih pintar dan bertambah ilmunya? Tapi tidak semua orang bisa seperti itu. Termasuk saya, butuh perjuangan yang ekstra untuk dapat kuliah, apalagi untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu S2. Saat ini saya sudah mendaftar di salah satu Universitas di Jakarta. Verifikasi berkas sudah dilewati, jadwal tes wawancara sudah ditentukan, namun saya belum juga dapat izin dari orang yang saya panggil Eyang untuk dapat kuliah lagi. Saya bertanya-bertanya, kenapa niat baik itu tidak selalu mudah untuk dijalani, saya merasa ini adalah sesuatu yang positif, juga mendapat pahala karena niat mencari ilmu. Tapi mindset yang berbeda membuat saya harus stuck di sini. Saya bingung, karena semua argumen saya dibantah oleh banyak alasan yang garis besarnya adalah tentang pernikahan.

Orang tua saya, memiliki background pendidikan yang rendah. Saya ingin kuliah lagi untuk memperbaiki diri dan membanggakan keluarga. Saya percaya bahwa ini adalah sesuatu yang baik, sedikitnya akan membuka wawasan saya jauh lebih luas dan memperbaiki pola pikir saya sehingga saya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Walaupun nanti saya akan sangat berusaha untuk membayar semua biaya sendiri karena kondisi ekonomi keluarga, tapi saya siap untuk itu karena saya yakin manfaat yang akan saya dapat jauh lebih besar dan akan mempengaruhi kehidupan saya selanjutnya.

Beruntunglah orang-orang yang lahir di keluarga yang serba berkecukupan dan tidak perlu susah payah untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi. Tapi saya tidak akan menyalahkan kondisi keluarga saya, saya selalu berusaha bersyukur karena saya yakin dengan perjuangan yang berbeda, saya menjadi pribadi yang juga berbeda. Lebih kuat, lebih tanggung, lebih dapat bertahan, menjadi pribadi yang lebih mandiri :D Amin

Dalam mengambil suatu keputusan, terdapat pro dan kontra. Jika banyak kontra yang menghampiri, saya merasa sangat sedih. Kehidupan saya tidaklah semulus daun talas atau selembut jelly. Sering saya harus menghela nafas dan menitikan air mata. Saya sering harus membuat keputusan sendiri, karena pola pikir kedua orang tua saya yang berbeda sehingga mereka tidak memberi arahan yang cukup jelas untuk saya.

Saya tidak ingin direndahkan karena saya bodoh, saya ingin dihargai oleh orang lain karena saya pintar, apakah itu sesuatu yang salah? Saya tidak tahu seberapa tinggi iq saya, mungkin saja hanya rata-rata atau dibawah rata-rata. Tapi saya punya keinginan untuk menjadi lebih baik.
Namun yang saya tahu iq bukanlah segalanya, jika tidak ada semangat untuk memperbaiki diri atau belajar, nilai iq yang tinggi menjadi tidak berarti. Bukankah iq harus diimbangi dengan eq?
Ya Allah,, semoga Engkau memberi jalan untukku, mudahkanlah... Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar